Selasa, 29 Maret 2011

IN DONESIA SEKSI DENGAN ADANYA SEJARAH KOMODO DI NEGARA KITA INI YANG SANGAT MEMPUNYAI ANEKA RAGAM KEKAYAAN DISETIAP DAERAHNYA…


AWALNYA SEJARAH TENTANG KOMODO
Inilah kisah tentang naga. Bukan sekadar legenda, tetapi benar-benar seekor naga yang hingga kini masih mendiami Kepulauan Indonesia bagian timur dan tengah. Raksasa dari dunia reptil ini punya reputasi sebagai predator puncak di kelasnya.
Sejak dulu di Pulau Komodo, jajaran Kepulauan Flores, Indonesia, telah muncul kisah tentang naga raksasa. Banyak pelaut yang berkisah bahwa naga ini lebih mirip monster yang menakutkan.
Ekornya yang besar bisa merubuhkan seekor kerbau hanya dengan satu kibasan. Rahangnya besar dan kuat, hingga mampu menelan seekor babi hutan dalam satu gerakan. Dan dari mulutnya senantiasa menyemburkan api.
Kisah ini beredar luas dan sempat menarik perhatian banyak orang. Namun tak pernah ada yang berani mendekati pulau tersebut untuk membuktikannya. Sampai akhirnya pada 1910-an awal, muncul laporan dari gugus satuan tempur armada kapal Belanda yang bermarkas di Flores tentang makhluk misterius yang diduga “naga” mendiami sebuah pulau kecil di wilayah Kepulauan Sunda Lesser (sekarang jajaran Kepulauan Flores, Nusa Tenggara).
Para pelaut militer Belanda tersebut memberi laporan bahwa makhluk tersebut kemungkinan berukuran sampai tujuh meter panjangnya, dengan tubuh raksasa dan mulut yang senantiasa menyemburkan api. Letnan Steyn van Hensbroek, seorang pejabat Administrasi Kolonial Belanda di kawasan Flores mendengar laporan ini dan kisah-kisah yang melingkupi Pulau Komodo. Ia pun merencanakan perjalanan ke Pulau Komodo.
Setelah mempersenjatai diri dan membawa satu regu tentara terlatih, ia mendarat di pulau tersebut. Setelah beberapa hari di pulau itu, Hensbroek berhasil membunuh satu spesies aneh itu.
Ia membawanya ke markas dan dilakukan pengukuran panjang hasil buruannya itu dengan panjang kira-kira 2,1 meter. Bentuknya sangat mirip kadal. Satwa itu kemudian dipotret (didokumentasikan) oleh Peter A Ouwens, Direktur Zoological Museum and Botanical Gardens Bogor, Jawa. Inilah dokumentasi pertama tentang komodo.
Ouwens tertarik dengan temuan satwa aneh tersebut. Ia kemudian merekrut seorang pemburu lihai untuk menangkap spesimen untuknya. Sang pemburu berhasil membunuh dua ekor komodo yang berukuran 3,1 meter dan 3,35 meter, plus menangkap dua anakan, masing-masing berukuran di bawah satu meter.
Berdasarkan tangkapan sang pemburu ini, Ouwens melakukan penelitian dan menyimpulkan bahwa komodo bukanlah naga penyembur api, melainkan termasuk jenis kadal monitor(monitor lizard) di kelas reptilia.
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhak1cFAIdsHnb1g4nuSTcPZYBbw0h_45IvHZ6y4ev3g3MjeRvUhz1D33qThSNNayEOqLy__uGkIdvkyw3Dy9KR_TTDm9WYSlPT7irraiYTbOxYeAV0SDaFSfhXNy5gMrHzVDUgV_bD01Y/s320/Unbenannt04.JPG
Hasil penelitiannya ini kemudian dipublikasikan pada koran terbitan tahun 1912. Dalam pemberitaan itu, Ouwens memberi saran nama pada kadal raksasa itu Varanus komodoensis sebagai pengganti julukan Komodo Dragon (Naga Komodo).
Sadar arti penting komodo sebagai satwa langka, Pemerintah Belanda mengeluarkan peraturan proteksi terhadap komodo dan Pulau Komodo pada 1915. Jadilah kawasan itu sebagai wilayah konservasi komodo.
Temuan komodo sebagai legenda naga yang hidup, memancing rasa ingin tahu dunia internasional. Beberapa ekspedisi ilmiah dari berbagai negara secara bergilir melakukan penelitian di Pulau Komodo.
Hewan Prasejarah yang Bertahan
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgTbuBxYj5vfBogDSMCQ4nUCXtR2AtK2KwOAdjacyBOn6LRgjRpZ8IbW9EdOaHI67NarGn0Ex22faTvcn1aCpzybOwY661lNqLj4HlppWcdkWmdiZCG6VKMclgtfj0NIvzCA5_pjOCUZZ0/s320/big994375293Pulau+Komodo+--+Komodo+008.jpg
Usai Perang Dunia I, sebuah ekspedisi ilmiah dirancang untuk melakukan penelitian komodo. Pada 1926, ekspedisi yang dipimpin W Douglas Burden dari American Museum of Natural History dengan perangkat penelitian termodern, melakukan penelitian selama berbulan-bulan.
Ekspedisi yang melibatkan puluhan orang itu menangkap 27 ekor komodo. Mereka melakukan bedah anatomi dan identifikasi spesies. Dari sinilah laporan ilmiah pertama yang lengkap tentang komodo dibuat.
Dideskripsikan bahwa komodo memiliki kepala yang besar dan kuat, memiliki sepasang mata yang bersinar, kulitnya keras, tebal dan liat. Memiliki kelambir kulit berkerut di bawah lehernya.
Bentuknya mirip dengan biawak, dengan empat kaki yang gemuk besar dan ekor yang juga gemuk besar panjang. Memiliki 26 gigi yang tajam, masing-masing berukuran 4 cm, memiliki lidah bercabang yang berwarna merah cerah. Jika dilihat dari kejauhan, lidah yang dijulurkan akan mirip api, karena komodo sering menjulurkan lidahnya seperti ular.
Komodo juga pemburu handal. Ia mengandalkan gigitan dan racun bakteri pada ludahnya untuk melumpuhkan mangsa. Ia akan mengikuti mangsanya yang sudah terluka selama berhari-hari, sampai akhirnya mati, barulah ia menyantapnya. Sebagai karnivora dan scavenger (pemakan bangkai), komodo memang hanya ditemui di Pulau Komodo, Pulau Rinca, Pulau Padar, Gili Motang, Owadi dan Samiin. Komodo juga diketahui sebagai hewan yang jago berenang. Dengan cara itulah ia melakukan penjelajahan di pulau-pulau sekitar Flores.


Fosil
Sementara itu pada pertengahan abad 20, di Australia ditemukan fosil makhluk purba yang setelah diteliti sangat mirip dengan komodo. Berdasarkan uji karbon, fosil itu diyakini berasal dari masa 60-30 juta tahun lalu. Ini berarti komodo pernah menghuni daratan Australia di masa prasejarah.
Namun peneliti masih dibingungkan dengan hubungan Pulau Komodo dengan fosil komodo dari Australia. Walau sejarah geologi bumi menunjukkan bahwa dulunya Australia dan beberapa kepulauan Indonesia adalah satu lempeng, namun Pulau Komodo diperkirakan terbentuk sekitar 1 juta tahun silam.
Sementara berdasarkan penelitian, komodo prasejarah sudah punah setidaknya 30 juta tahun lalu, sebelum Pulau Komodo terbentuk. Lantas mengapa komodo hanya bisa ditemukan di Pulau Komodo dan sekitarnya? Sejak kapan komodo menghuni Pulau Komodo? Sementara tidak pernah ditemukan jejak belulang komodo di tempat lain (kecuali Australia). Ini adalah satu misteri yang menuntut penelitian lebih lanjut.


Penghuni Pulau Komodo
Komodo adalah hewan asli Kepulauan Flores, Nusa Tenggara. Pulau yang paling banyak ditempati komodo ini diberi nama sesuai dengan nama hewan ini saat ditemukan pada 1910, yakni Pulau Komodo (Komodo Island).
Kadal-kadal raksasa ini termasuk hewan yang nyaris punah dengan jumlah populasi di alam liar kurang dari 4.000 ekor. Untuk melindungi komodo, pada 1980 disepakati untuk membentuk kawasan konservasi dalam bentuk Taman Nasional Komodo di Pulau Komodo dan pulau-pulau kecil di sekitarnya.
Sebaran dan populasi komodo dalam tiga dasawarsa terakhir ini semakin menurun dan keberadaannya semakin terancam, terutama akibat kegiatan perburuan rusa, sebagai mangsa utamanya. Bahkan populasi di Pulau Padar diketahui telah hilang sejak akhir 1990-an, padahal pada awal tahun 1980-an, komodo masih dapat dijumpai di sana. Perhatian dan upaya konservasi spesies ini perlu diberikan secara khusus, karena populasi komodo diambang kepunahan.
Bagi sebagian penduduk di Pulau Komodo, hewan ini dianggap lebih berbahaya terhadap manusia daripada buaya, karena kandungan bakteri pada air liurnya yang dapat menyebabkan infeksi berat.
Biasanya, musim kawin komodo terjadi antara Juni-Juli. Pada Agustus, komodo betina akan menggali sarang berupa gundukan bekas sarang burung Gosong (Megapodius reindwardt) di bukit dan sarang lubang di tanah, untuk menyimpan telurnya yang dapat mencapai 38 butir. Telur komodo biasanya dijaga oleh induknya, namun anak yang baru lahir pada bulan Februari atau Maret tidak dijaga, malah sering dimakan.
Komodo membutuhkan lima tahun untuk tumbuh sampai ukuran dua meter dan dapat terus hidup sampai 30 tahun. Memasuki 4-5 tahun adalah masa awal kematangan komodo secara seksual
http://media.vivanews.com/thumbs2/2009/12/15/81767_komodo__varanus_komodoensis__300_225.jpg
  (Antara/ Ujang Zaelani)
Pulau Komodo adalah satu-satunya wakil Indonesia dalam 28 finalis  untuk pemilihan 7 keajaiban dunia. Proses  pemilihan dilakukan oleh warga dunia lewat situs New7Wonder. Dengan jumlah penguna internet di Indonesia yang luar biasa besar, peluang untuk masuk 7 keajaiban itu sangat besar.
Masalahnya kampanye untuk ikut memenangkan Pulau yang dihuni hewan langka dari jaman purba itu, belum begitu massif. Komodo bersaing dengan 28 finalis  yang juga amat sohor seperti Great Barrier Reef, Laut Mati, Halong Bay, Maldives, Galapagos, dan Amazon-
Dan posisi jagoan Indonesia ini terlempar dari kotak  7 teratas. Padahal sebelumnya dia sempat masuk dalam 7 besar. Hingga pagi ini poisisi Komodo berada di urutan ke 12.
Jumat pekan lalu, Presiden New 7 Wonders of Nature, Bernard Weber, bersama salah seorang anggota Dewan Direksi, Jean-Paul de la Fuente, berkunjung ke Jakarta. Bernard dan Jean mendapat kesan yang positif tentang Jakarta-- yang merupakan salah satu calon kuat penyelenggara acara deklarasi pemenang.
Dengan menjadi penyelenggara, kata Bernard Weber, banyak untungnya buat Indonesia. Mata umat manusia sejagat akan melihat Jakarta pada hari pengumuman 7 keajaiban dunia itu pada 11 November 2011 atau 11-11-11. Indonesia akan kian dikenal dan peluang dikunjungi para pelancong kian besar.
Pulau Komodo itu sendiri terletak di sebelah barat Pula Flores. Kota terdekat dari pulau itu adalah Labuan Bajo, ibukota Kabupaten Manggarai Barat. Dari kota itu , mengunakan perahu motor perjalanan ke pulau itu sekitar dua setengah jam.
Bagaimana binatang rakasa itu bisa berbiak di pulau kecil itu. Belum banyak buku atau catatan sejarah yang menulisnya.  Para ahli hewan purbakala menafsir, binatang raksasa itu merayap ke daratan  Australia dan Indonesia sekitar 15 juta tahun lalu. Dari mana datangnya? Catatan soal ini masih minim.
Lima belas juta tahun melata di pulau kecil  yang dirimbuni pohon lontar itu, ora (begitu masyarakat Manggarai menyebutnya)  baru diketahui dunia tahun 1912, ketika seorang Letnan Belanda berkunjung ke situ. 
Binatang ini besar dan panjang dari hewan melata lainnya. Yang paling panjang sekitar 3,13 meter dengan berat sekitar 166 kilo gram. Hewan di pulau Komodo, hewan langka ini juga banyak ditemui dijumpai di Pulau Rinca yang letaknya lebih dekat ke daratan Flores.
Hewan raksasa itu berbiak dengan cara bertelur. Cara komodo betina bertelur cukup unik. Biasanya si betina akan mengali tanah untuk bertelur. Bayi Komodo panjangnya 30 cm. Berat 80 gram. Para bayi biasanya kerap nongkrong di pucuk pohon agar tidak dimangsa komodo besar yang mungkin lapar.
Selain hewan yang super langka itu, Komodo sesungguhnya memiliki daya pikat lain seperti laut yang bening dan kekayaan bawah laut yang luar biasa.

JADIKAN KOMODO SEBAGAI BAGIAN DARI SEJARAH DUNIA
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgNu_yeR-DqQgned6I4WpfvfX6XBta52Rn-O5YzbmDZr4SvLjgx1nv_qMKsOhXUrPiR016425uEl4ClBTWe2nzvydwwrsRvn_DkiH1_PKWq3PJa8CC3BZ8r4bdtDof29Kd7mDLgbIrpP25i/s320/komodo1.jpg
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiB8hyphenhyphen0saLefrgC7h6asrEEqO6fisSPSC8b89PJgx1o1fwicbwuUp5JTBzFBK9tUXx6kQJkvkKPosMVWaezYP4idJEjSgJq5Flu6qpvjYe0a43XPY0PBABAlzX7RKvGmNl1AcNfsjELS5EN/s320/800px-Varanus_komodoensis1.jpg
Komodo, atau yang selengkapnya disebut biawak komodo (Varanus komodoensis), adalah spesies kadal terbesar di dunia yang hanya hidup di pulau Komodo, Rinca, Gili Motang, dan Gili Dasami serta beberapa pulau kecil di selat antara Sumbawa dan peisisir barat serta utara Flores, Nusa Tenggara Timur. Biawak ini oleh penduduk asli pulau Komodo juga disebut dengan nama setempat ora.
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgF6mC1xYo_0zov0LBjUG9hFlqpa3kGSPuYtQF96mhMVCX-VjTRGFLBdqKosvVfWIqeQofPFYjIiuf04peuvtkfjFlsXw0xc7z5a506DW7nCslAai4Pm9EWa_vPTnWucYXW56foe0qbo3GQ/s320/ntttouristmap.png
 
Termasuk anggota famili biawak Varanidae, dan klad Toxicofera, komodo merupakan kadal terbesar di dunia, dengan rata-rata panjang 2-3 m dan beratnya sekitar 70 - 150 kg. Ukurannya yang besar ini berhubungan dengan gejala gigantisme pulau, yakni kecenderungan meraksasanya tubuh hewan-hewan tertentu yang hidup di pulau kecil terkait dengan tidak adanya mamalia karnivora di pulau tempat hidup komodo, dan laju metabolisme komodo yang kecil. Karena besar tubuhnya, kadal ini menduduki posisi predator puncak yang mendominasi ekosistem tempatnya hidup.
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgvDnF7u7iTVG39X2tTfnY1cKCBv_WwYzp8QLQpTsbdchauTlQGvcXEfQvmWWNUO_e6zkppdDnGa3wtKTLGyaUvWeTQbjwhMpWRVleshF577NyESy6PKps32snmHmAPPQ7Y61L98ZujwTl1/s320/km-8.jpg

 Di alam bebas, komodo dewasa biasanya memiliki massa sekitar 70 kilogram, namun komodo yang dipelihara di penangkaran sering memiliki bobot tubuh yang lebih besar. Spesimen liar terbesar yang pernah ada memiliki panjang sebesar 3.13 meter dan berat sekitar 166 kilogram, termasuk berat makanan yang belum dicerna di dalam perutnya. Meski komodo tercatat sebagai kadal terbesar yang masih hidup, namun bukan yang terpanjang. Reputasi ini dipegang oleh biawak Papua (Varanus salvadorii). Komodo memiliki ekor yang sama panjang dengan tubuhnya, dan sekitar 60 buah gigi yang bergerigi tajam sepanjang sekitar 2.5 cm, yang kerap diganti. Air liur komodo sering kali bercampur sedikit darah karena giginya hampir seluruhnya dilapisi jaringan gingiva dan jaringan ini tercabik selama makan. Kondisi ini menciptakan lingkungan pertumbuhan yang ideal untuk bakteri mematikan yang hidup di mulut mereka. Komodo memiliki lidah yang panjang, berwarna kuning dan bercabang. Komodo jantan lebih besar daripada komodo betina, dengan warna kulit dari abu-abu gelap sampai merah batu bata, sementara komodo betina lebih berwarna hijau buah zaitun, dan memiliki potongan kecil kuning pada tenggorokannya. Komodo muda lebih berwarna, dengan warna kuning, hijau dan putih pada latar belakang hitam.
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgHNWaRM9RVOesgqJU7SmlrNHwa8NZzQOTjrUrotVXPYtTW93eSZkiRghzLjFydxFiFrzjOu6MY_4UWaqoWy-iaER3d_eZGMQwYe6pKgO_4R3G1U6-cBSQZLn3qKBgQkjtvviZ3tHXHEpXs/s320/indo_0052.jpg

Komodo tak memiliki indera pendengaran, meski memiliki lubang telinga. Biawak ini mampu melihat hingga sejauh 300 m, namun karena retinanya hanya memiliki sel kerucut, hewan ini agaknya tak begitu baik melihat di kegelapan malam. Komodo mampu membedakan warna namun tidak seberapa mampu membedakan obyek yang tak bergerak. Komodo menggunakan lidahnya untuk mendeteksi rasa dan mencium stimuli, seperti reptil lainnya, dengan indera vomeronasal memanfaatkan organ Jacobson, suatu kemampuan yang dapat membantu navigasi pada saat gelap. Dengan bantuan angin dan kebiasaannya menelengkan kepalanya ke kanan dan ke kiri ketika berjalan, komodo dapat mendeteksi keberadaan daging bangkai sejauh 4—9.5 kilometer. Lubang hidung komodo bukan merupakan alat penciuman yang baik karena mereka tidak memiliki sekat rongga badan. Hewan ini tidak memiliki indra perasa di lidahnya, hanya ada sedikit ujung-ujung saraf perasa di bagian belakang tenggorokan.
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjuqPVEY3cd9QCyG5E7pp7hYHLjriDkvkxh9GzJ9vea9LUkcsCLVChSboep2Hczi7its_suWlDhodIrMSCvfMSPnb7Yftc_nK4aG5oeiz_xWNrioakJZhDT6gH_Gkr10d-_JjEbxlzFdlBd/s320/indo_0051.jpg

Sisik-sisik komodo, beberapa di antaranya diperkuat dengan tulang, memiliki sensor yang terhubung dengan saraf yang memfasilitasi rangsang sentuhan. Sisik-sisik di sekitar telinga, bibir, dagu dan tapak kaki memiliki tiga sensor rangsangan atau lebih.
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEifq4bl1cei_DBzu4gMWlqwP5t7t4mZq__j-tcw1zrdcp7-fDmwB9SK2tSUSUnBOZaMkt9dibyMd6hweSUPbow9YcNkXV7IhiWfPl1YaRT7ulPPEzHXIwud8Kj9bT39KSgHq4QIBGHzWfUE/s320/indo_0049.jpghttps://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjEWkF7HysgWWjzQ9hLwAP1oIiolDULJe-GB97xcfMOtW1813OuzhQX3bOgnof6iiOWyIno5aeIJB5Ir7qbDfspNhjUjtzO9_KkUxW4tVEluZC6kenzJApjXhnY8FuZOe5ulQqRqCM3xpCB/s320/indo_0050.jpg

Komodo secara alami hanya ditemui di Indonesia, di pulau Komodo, Flores dan Rinca dan beberapa pulau lainnya di Nusa Tenggara. Hidup di padang rumput kering terbuka, sabana dan hutan tropis pada ketinggian rendah, biawak ini menyukai tempat panas dan kering ini. Mereka aktif pada siang hari, walaupun terkadang aktif juga pada malam hari. Komodo adalah binatang yang penyendiri, berkumpul bersama hanya pada saat makan dan berkembang biak. Reptil besar ini dapat berlari cepat hingga 20 kilometer per jam pada jarak yang pendek; berenang dengan sangat baik dan mampu menyelam sedalam 4.5 meter; serta pandai memanjat pohon menggunakan cakar mereka yang kuat. Untuk menangkap mangsa yang berada di luar jangkauannya, komodo dapat berdiri dengan kaki belakangnya dan menggunakan ekornya sebagai penunjang. Dengan bertambahnya umur, komodo lebih menggunakan cakarnya sebagai senjata, karena ukuran tubuhnya yang besar menyulitkannya memanjat pohon.
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh2tW2y8h2YxXBpXlu26sF6okx99H9DW4It_ValoWLqR_N18izT2tzgenTuY0Bd6vn30rY9ST3VBGtGV3k7weLCagfSPWn61dGIRhyphenhyphend1sdRDETFgoTDA_3sUjNaCumTD7ap2iAXaGs3rgtD/s320/indo_0054.jpg

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjIFXtQPbVHt4l15YOf6Z4Gy0Wq6PZ5fU1fsLpC57HaW-D8VbjS87KLux6iSvdGQsGF4xb43ySac723I3mNqe3GScjVKmhp2EztDfevx0rufw36gFa1WP1Me4ui2r6b4IhPwXPjk281_DgR/s320/indo_0059.jpg

Untuk tempat berlindung, komodo menggali lubang selebar 1–3 meter dengan tungkai depan dan cakarnya yang kuat. Karena besar tubuhnya dan kebiasaan tidur di dalam lubang, komodo dapat menjaga panas tubuhnya selama malam hari dan mengurangi waktu berjemur pada pagi selanjutnya. Komodo umumnya berburu pada siang hingga sore hari, tetapi tetap berteduh selama bagian hari yang terpanas. Tempat-tempat sembunyi komodo ini biasanya berada di daerah gumuk atau perbukitan dengan semilir angin laut, terbuka dari vegetasi, dan di sana-sini berserak kotoran hewan penghuninya. Tempat ini umumnya juga merupakan lokasi yang strategis untuk menyergap rusa.
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi3I3vtdWZ5xLOpIhOjKdPJzgNaq1saYYRuRNeBsdaujE9b6XwCnc-k9xf7GI6WwjlrpfNfkCqL-WCTfPCjOGCWC79bf2CRqvEILwynY2wcRNA1AMaY9sdqoyF2iKP5pfIMibzbyVplH0pe/s320/indo_0068.jpg

Komodo adalah hewan karnivora. Walaupun mereka kebanyakan makan daging bangkai, penelitian menunjukkan bahwa mereka juga berburu mangsa hidup dengan cara mengendap-endap diikuti dengan serangan tiba-tiba terhadap korbannya. Ketika mangsa itu tiba di dekat tempat sembunyi komodo, hewan ini segera menyerangnya pada sisi bawah tubuh atau tenggorokan. Komodo dapat menemukan mangsanya dengan menggunakan penciumannya yang tajam, yang dapat menemukan binatang mati atau sekarat pada jarak hingga 9,5 kilometer.
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhVbD9fgo0xFvXSYY0ClEeCkIWmVSaIGvldSYXwJH_npDgY6jUZkD0VkGuxRI0qRwrUU1vub-fg3J18xsBRKWlg2NLYQFuVKdoMQoQwFwJX_97bn3IS3VVUZIn90yPuyp4z0Mwfnqcfkct9/s320/indo_0061.jpg

Reptil purba ini makan dengan cara mencabik potongan besar daging dan lalu menelannya bulat-bulat sementara tungkai depannya menahan tubuh mangsanya. Untuk mangsa berukuran kecil hingga sebesar kambing, bisa jadi dagingnya dihabiskan sekali telan. Isi perut mangsa yang berupa tumbuhan biasanya dibiarkan tak disentuh. Air liur yang kemerahan dan keluar dalam jumlah banyak amat membantu komodo dalam menelan mangsanya. Meski demikian, proses menelan tetap memakan waktu yang panjang; 15–20 menit diperlukan untuk menelan seekor kambing. Komodo terkadang berusaha mempercepat proses menelan itu dengan menekankan daging bangkai mangsanya ke sebatang pohon, agar karkas itu bisa masuk melewati kerongkongannya. Dan kadang-kadang pula upaya menekan itu begitu keras sehingga pohon itu menjadi rebah. Untuk menghindari agar tak tercekik ketika menelan, komodo bernafas melalui sebuah saluran kecil di bawah lidah, yang berhubungan langsung dengan paru-parunya. Rahangnya yang dapat dikembangkan dengan leluasa, tengkoraknya yang lentur, dan lambungnya yang dapat melar luar biasa memungkinkan komodo menyantap mangsa yang besar, hingga sebesar 80% bobot tubuhnya sendiri dalam satu kali makan. Setelah makan, komodo menyeret tubuhnya yang kekenyangan mencari sinar matahari untuk berjemur dan mempercepat proses pencernaan. Kalau tidak, makanan itu dapat membusuk dalam perutnya dan meracuni tubuhnya sendiri. Dikarenakan metabolismenya yang lamban, komodo besar dapat bertahan dengan hanya makan 12 kali setahun atau kira-kira sekali sebulan. Setelah daging mangsanya tercerna, komodo memuntahkan sisa-sisa tanduk, rambut dan gigi mangsanya, dalam gumpalan-gumpalan bercampur dengan lendir berbau busuk, gumpalan mana dikenal sebagai gastric pellet. Setelah itu komodo menyapukan wajahnya ke tanah atau ke semak-semak untuk membersihkan sisa-sisa lendir yang masih menempel; perilaku yang menimbulkan dugaan bahwa komodo, sebagaimana halnya manusia, tidak menyukai bau ludahnya sendiri.
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEitRy4XjLZFOQg4R7qunsSoUq0aoI9rrCeZ0Ywx7m5P_WoJkunosI07rhQMMB6CBiezvQmEe_zpPadEhXaUttyQ7icBZeBMG2XI2OD99BGOOgyHv1fNRpSJlYKhRRWsUlG-93um0KMWuJdw/s320/Komodo_Dragon_Eating_Rinca.jpg

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjVsPm5odnFfjqoFp_RIjDOH5kBeXI7eLSh_rJ9OE7F5likpDQK-ouwuM6imbTm3sCqVPF-rTIGulNDu2Yix7qsxFQkwuyEJFZKgDymX_BTUmLFhOBIG_0kR51WQGExKYCmi5aONO5iRn2S/s320/indo_0062.jpg



Dalam kumpulan, komodo yang berukuran paling besar biasanya makan lebih dahulu, diikuti yang berukuran lebih kecil menurut hirarki. Jantan terbesar menunjukkan dominansinya melalui bahasa tubuh dan desisannya; yang disambut dengan bahasa yang sama oleh jantan-jantan lain yang lebih kecil untuk memperlihatkan pengakuannya atas kekuasaan itu. Komodo-komodo yang berukuran sama mungkin akan berkelahi mengadu kekuatan, dengan cara semacam gulat biawak, hingga salah satunya mengaku kalah dan mundur; meskipun adakalanya yang kalah dapat terbunuh dalam perkelahian dan dimangsa oleh si pemenang.
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiwcJEWlKl9UmPZ4U9MnibhlWVhfe3V3BTiguaaqC6nD_i7GhUsk2yqLvy3bGqLyWCUGsS5RMdYN4YWQeRlkFHCcQdm7KO-kS2Hbjp7Ls6Vo2HmDMMIo1FAgh4UkQzm1wefQ7y4zFUNH275/s320/KomodoDragonRinca1.jpg

Mangsa biawak komodo amat bervariasi, mencakup aneka avertebrata, reptil lain (termasuk pula komodo yang bertubuh lebih kecil), burung dan telurnya, mamalia kecil, monyet, babi hutan, kambing, rusa, kuda, dan kerbau. Komodo muda memangsa serangga, telur, cecak, dan mamalia kecil.[4][24] Kadang-kadang komodo juga memangsa manusia dan mayat yang digali dari lubang makam yang dangkal. Kebiasaan ini menyebabkan penduduk pulau Komodo menghindari tanah berpasir dan memilih mengubur jenazah di tanah liat, serta menutupi atasnya dengan batu-batu agar tak dapat digali komodo. Ada pula yang menduga bahwa komodo berevolusi untuk memangsa gajah kerdil Stegodon yang pernah hidup di Flores. Komodo juga pernah teramati ketika mengejutkan dan menakuti rusa-rusa betina yang tengah hamil, dengan harapan agar keguguran dan bangkai janinnya dapat dimangsa; suatu perilaku yang juga didapati pada predator besar di Afrika.
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhP146saJ_4zIkfm-KiWO4U4byRt_yl8SWXNlAh6bkQpI1gZbrNz6B-zapJ4n1B5ydz-mhSu2sz68yRKR5m2yplmF0FTP5u0iNE1bmcxnwEgYxtiSth84nErVZ0DbsVLvNgXoKnn1qWyZI8/s320/KDragon1mj.jpg

Karena tak memiliki sekat rongga badan, komodo tak dapat menghirup air atau menjilati air untuk minum (seperti kucing). Alih-alih, komodo ‘mencedok’ air dengan seluruh mulutnya, lalu mengangkat kepalanya agar air mengalir masuk ke perutnya.
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj6hy0RhCjZE_1Fg-kYhc4f5nibQ8Ch7_D3bA1LdIg84Z_XQB3C7bFqqSaE-Nm2fGbP9rB4OL3NnSTZmcn0gpYaIz_yTHG8ldoeYGqTLoXeCGWbl1xpj5TRyNTNHwiTcbwKnanfoX_BxAPB/s320/KdragonT.zoo.jpg

Perkembangan evolusi komodo dimulai dengan marga Varanus, yang muncul di Asia sekitar 40 juta tahun yang silam dan lalu bermigrasi ke Australia. Sekitar 15 juta tahun yang lalu, pertemuan lempeng benua Australia dan Asia Tenggara memungkinkan para biawak bergerak menuju wilayah yang dikenal sebagai Indonesia sekarang. Komodo diyakini berevolusi dari nenek-moyang Australianya pada sekitar 4 juta tahun yang lampau, dan meluaskan wilayah persebarannya ke timur hingga sejauh Timor. Perubahan-perubahan tinggi muka laut semenjak zaman Es telah menjadikan agihan komodo terbatas pada wilayah sebarannya yang sekarang.
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEicpkbDOYvUEIFqs3wT_Rb-YDK2q-pV9Yvz8SKb49vv9ICFCUMevvQ0JKCYPCEc6LxjoeLfDLnTg7HJwpVLaRGMHgH0zYlT2FIMCUlFVvbnRcal2dmGtfgczPVzScX9r_CHT6qBe2uh1qsz/s320/Varanus_komodoensis.JPG

Komodo pertama kali didokumentasikan oleh orang Eropa pada tahun 1910. Namanya meluas setelah tahun 1912, ketika Peter Ouwens, direktur Museum Zoologi di Bogor, menerbitkan paper tentang komodo setelah menerima foto dan kulit reptil ini. Nantinya, komodo adalah faktor pendorong dilakukannya ekspedisi ke pulau Komodo oleh W. Douglas Burden pada tahun 1926. Setelah kembali dengan 12 spesimen yang diawetkan dan 2 ekor komodo hidup, ekspedisi ini memberikan inspirasi untuk film King Kong tahun 1933. W. Douglas Burden adalah orang yang pertama memberikan nama "Komodo dragon" kepada hewan ini. Tiga dari spesimen komodo yang diperolehnya dibentuk kembali menjadi hewan pajangan dan hingga kini masih disimpan di Museum Sejarah Alam Amerika.
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiLNCnFZiBZE4ljDGqF4KJYuoiiZJXOQMhWyrrcqt4f7wbvMZp6KRgcMQOUD7FYSKU1U1eWYfrUgY8cxGOiey5PlQ91WWl3X__kk0Bnoc0mylIfAYFKc-CIjfEQqjmU4mJRjB_fk0gzwik0/s320/indo_0048.jpg

Karena menyadari berkurangnya jumlah hewan ini di alam bebas, para penelitipun melarang perburuan komodo dan membatasi jumlah hewan yang diambil untuk penelitian ilmiah. Ekspedisi komodo terhenti semasa Perang Dunia II, dan tak dilanjutkan sampai dengan tahun 1950an dan ‘60an tatkala dilakukan penelitian-penelitian terhadap perilaku makan, reproduksi dan temperatur tubuh komodo. Pada tahun-tahun itu, sebuah ekspedisi yang lain dirancang untuk meneliti komodo dalam jangka panjang. Tugas ini jatuh ke tangan keluarga Auffenberg, yang kemudian tinggal selama 11 bulan di Pulau Komodo di tahun 1969. Selama masa itu, Walter Auffenberg dan Putra Sastrawan sebagai asistennya, berhasil menangkap dan menandai lebih dari 50 ekor komodo. Hasil ekspedisi ini ternyata sangat berpengaruh terhadap meningkatnya penangkaran komodo. Penelitian-penelitian yang berikutnya kemudian memberikan gambaran yang lebih terang dan jelas mengenai sifat-sifat alami komodo, sehingga para biolog seperti halnya Claudio Ciofi dapat melanjutkan kajian yang lebih mendalam.
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh1Ig-moR015pLMz6lnDk5ezMJLm04nhGuAgjL5ZwlNyQ0hJWBXkcc3FI8RsNFU00Pap4lnUktmyTZOwkSHxidEKMHKD6yhJV5osdVAvUzoCtlFa8mlcs5P4epby21hH1LblfDQcNjZ7y5T/s320/komodo_dragons2.JPG

Kini komodo menjadi tontonan yang menarik di pelbagai kebun binatang, terutama karena ukuran tubuh dan reputasinya yang membuatnya begitu populer. Komodo yang pertama kali dipertontonkan adalah di Kebun Binatang Smithsonian di Toronto, namun hewan ini hanya bertahan hidup selama dua tahun . Meski demikian hewan ini jarang dipunyai kebun binatang, karena komodo rentan terhadap infeksi dan penyakit akibat parasit, serta tak mudah berkembang biak.

Upaya-upaya untuk memelihara reptil ini terus dilanjutkan, namun usia binatang ini dalam tangkaran tak begitu panjang, rata-rata hanya 5 tahun di kebun binatang tersebut. Penelitian yang dilakukan oleh Walter Auffenberg di atas, yang hasilnya kemudian diterbitkan sebagai buku The Behavioral Ecology of the Komodo Monitor, pada akhirnya memungkinkan pemeliharaan dan pembiakan satwa langka ini di penangkaran.
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiu_U238oSMZsxzqO9woTY-g5uAGLcSy91YjkWOP27sIik_5hDCAdPsk9FVJMwtYe-JtPIuL8FFONEIJt5vXgGmurfuD7II0bkxvL3QvB8p8wXluLQkEqd1aj-jIwdH9fnlk68aoTMwemFT/s320/119210large.jpg

Telah teramati bahwa banyak individu komodo yang dipelihara memperlihatkan perilaku yang jinak untuk jangka waktu tertentu. Dilaporkan pada banyak kali kejadian, bahwa para pawang berhasil membawa keluar komodo dari kandangnya untuk berinteraksi dengan pengunjung, termasuk pula anak-anak di antaranya, tanpa akibat yang membahayakan pengunjung. Komodo agaknya dapat mengenali orang satu persatu. Ruston Hartdegen dari Kebun Binatang Dallas melaporkan bahwa komodo-komodo yang dipeliharanya bereaksi berbeda apabila berhadapan dengan pawang yang biasa memeliharanya, dengan pawang lain yang kurang lebih sudah dikenal, atau dengan pawang yang sama sekali belum dikenal.
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiF7xC9DRIc8Jsk4EwdN8OA4b2YAN0sk4oMNFyORXhAlRSezs0Lt_WgIsUMrQs-DXJISII1K9Ctpnidf6rOHUUDg6aqvdZ0vQ8LqT7eAhO4h1gmRMv-s4D8HaZ1wkPGFI9qauAMHqvpfKp1/s320/Varanus_komodoensis3.jpg


Penelitian terhadap komodo peliharaan membuktikan bahwa hewan ini senang bermain. Suatu kajian mengenai komodo yang mau mendorong sekop yang ditinggalkan oleh pawangnya, nyata-nyata memperlihatkan bahwa hewan itu tertarik pada suara yang ditimbulkan sekop ketika menggeser sepanjang permukaan yang berbatu. Seekor komodo betina muda di Kebun Binatang Nasional di Washington, D.C. senang meraih dan mengguncangkan aneka benda termasuk patung-patung, kaleng-kaleng minuman, lingkaran plastik, dan selimut. Komodo ini pun senang memasuk-masukkan kepalanya ke dalam kotak, sepatu, dan aneka obyek lainnya. Komodo tersebut bukan tak bisa membedakan benda-benda tadi dengan makanan; ia baru memakannya apabila benda-benda tadi dilumuri dengan darah tikus. Perilaku bermain-main ini dapat diperbandingkan dengan perilaku bermain mamalia.
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh8GUlPN0j6Lx-ZjzQsybPq4T5Tz0T1iBSy9zxmEdBSSMUknTKtJe3wWZ21kYsZzFYCuRRXvIbs5SVb8mCu3BRbzV5I0K2D92oPGr0E92E3hvNpbBaEOnqs2W3xKcNW-2gbYONms2rfWmrF/s320/indo_0060.jpg

Catatan lain mengenai kesenangan bermain komodo didapat dari Universitas Tennessee. Seekor komodo muda yang diberi nama "Kraken" bermain dengan gelang-gelang plastik, sepatu, ember, dan kaleng, dengan cara mendorongnya, memukul-mukulnya, dan membawanya dengan mulutnya. Kraken memperlakukan benda-benda itu berbeda dengan apa yang menjadi makanannya, mendorong Gordon Burghardt –peneliti– menyimpulkan bahwa hewan-hewan ini telah mementahkan pandangan bahwa permainan semacam itu adalah “perilaku predator bermotif-pemangsaan”.
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh2tW2y8h2YxXBpXlu26sF6okx99H9DW4It_ValoWLqR_N18izT2tzgenTuY0Bd6vn30rY9ST3VBGtGV3k7weLCagfSPWn61dGIRhyphenhyphend1sdRDETFgoTDA_3sUjNaCumTD7ap2iAXaGs3rgtD/s320/indo_0054.jpg

Komodo yang nampak jinak sekalipun dapat berperilaku agresif secara tak terduga, khususnya apabila teritorinya dilanggar oleh seseorang yang tak dikenalnya. Pada bulan Juni 2001, serangan seekor komodo menimbulkan luka-luka serius pada Phil Bronstein -- editor eksekutif harian San Francisco Chronicle dan bekas suami Sharon Stone, seorang aktris Amerika terkenal -- ketika ia memasuki kandang binatang itu atas undangan pawangnya. Bronstein digigit komodo itu di kakinya yang telanjang, setelah si pawang menyarankannya agar membuka sepatu putihnya, yang dikhawatirkan bisa memancing perhatian si komodo. Meski pria itu berhasil lolos, namun ia membutuhkan pembedahan untuk menyambung kembali tendon ototnya yang terluka.

Rentan dalam daftar IUCN Red List. Sekitar 4.000–5.000 ekor komodo diperkirakan masih hidup di alam liar. Populasi ini terbatas menyebar di pulau-pulau Rinca (1.300 ekor), Gili Motang (100), Gili Biawak komodo merupakan spesies yang rentan terhadap kepunahan, dan dikatagorikan sebagai spesies Dasami (100), Komodo (1.700), dan Flores (mungkin sekitar 2.000 ekor). Meski demikian, ada keprihatinan mengenai populasi ini karena diperkirakan dari semuanya itu hanya tinggal 350 ekor betina yang produktif dan dapat berbiak. Bertolak dari kekhawatiran ini, pada tahun 1980 Pemerintah Indonesia menetapkan berdirinya Taman Nasional Komodo untuk melindungi populasi komodo dan ekosistemnya .di beberapa pulau termasuk Komodo, Rinca, dan Padar. Belakangan ditetapkan pula Cagar Alam Wae Wuul dan Wolo Tado di Pulau Flores untuk membantu pelestarian komodo.

APAAN TUHHHH : TAMAN NASIONAL KOMODOatau Indonesia’s Komodo National Park


Taman Nasional Komodo terdiri dari tiga buah pulau besar yaitu pulau , pulau Rinca, pulau Padar, ditambah dengan Cagar Alam Wae Wuul dan Wolo Tado, serta 26 buah pulau besar/kecil lainnya di Flores Nusa Tenggara Timur. Sebanyak 11 buah gunung/bukit yang ada di Taman Nasional Komodo dengan puncak tertinggi yaitu Gunung Satalibo (± 735 meter dpl). Taman Nasional Komodo memiliki luas total 180.000 hektar, terdiri dari 60.000 hektar luas daratan dan 120.000 hektar luas perairan. Kurang lebih 3000 penduduk tinggal di empat desa yang terdapat didalam TN Komodo. Penduduk yang mayoritas berasal dari etnik bajo, bima, dan bugis tersebar di kampung Komodo, Rinca, Papagaran dan Kerora.
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgTH5fsoXPtYk43OF4ojREeXo_01N9aCI-4VGWOszrB8Pbk6PR7bVlpKDfLCNAYJ_IIk2vknz-nkEjdb-w4GP0No8DGSnpPFXR_oBkFLFZ-0HKI4VllCaihZCYazOfbQMnv30PYEP2YHfmF/s320/dive_sites+copy.jpg
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh-wkl8lEIUDzyBzAIENNohsQsOrR8N7hsrCEC6J7Ymft2rt0GAK_X-o3R8JuKhGmDUAU1dNegr_0etSkmXlMvEYqXScHJ-6szaOU5WVFyLszgDQvBueNPOHuuBP_z5Q_YxL40B3vDpAq6c/s320/pulau+komodo.jpg
Taman Nasional Komodo didirikan pada 1980 dan dinyatakan sebagai Cagar Manusia dan Biosfir pada 1986. Taman Nasional Komodo dinyatakan sebagai taman nasional untuk melindungi komodo yang terancam punah. Serta melindungi lingkungan serta keanekaragaman hayati pulau tersebut. Taman Nasional Komodo merupakan asset nasional yang mendapat dukungan bantuan teknis untuk pengelolaannya secara internasional, dan telah ditetapkan sebagai Situs Warisan Alam Dunia dan Cagar Biosfir atau World Heritage Site and a Man and Biosphere Reserve oleh UNESCO pada tahun 1991.
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi0a3izIkPIo_KXW7WnPwFZmRnDdw4PNv9jILbvatzXJ58P53pq_vJnoWla5Nc1zYOzgPboZB_09Usmd3sy9HweukFRV-uSzuxJzXD6zGE4Xxx2s3VX3IcOS0Ms-f18GgQ27Ijz7v5MveB4/s320/gugusan-kepulauan-komodo.jpg
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgwam8Ys7SQJfyJqIUUxlE_Kv6t6iu6Igu_VP8qSyuybmdY_AbOIZmNhRORY6faIfifKgkERCWZmPPkeHpgKneL1Uu-IyFZASQ40FYeTK9Ye-RbrLRmQbkWxbS2ZXeP5sgHwx4bgwh27xYX/s320/KomodoNationalPark,+Indonesia%40MarthenWelly.JPG

Keadaan alam yang kering dan gersang menjadikan suatu keunikan tersendiri. Adanya padang savana yang luas, sumber air yang terbatas dan suhu yang cukup panas; ternyata merupakan habitat yang disenangi oleh sejenis binatang purba Komodo (Varanus komodoensis). Sebagian besar taman nasional ini merupakan savana dengan pohon lontar (Borassus flabellifer) yang paling dominan dan khas. Beberapa tumbuhan yang ada di Taman Nasional Komodo antara lain rotan (Calamus sp.), bambu (Bambusa sp.), asam (Tamarindus indica), kepuh (Sterculia foetida), bidara (Ziziphus jujuba), dan bakau (Rhizophora sp.). Curah hujan yang sedikit, menjadikan Taman Nasional Komodo sangat khas dengan padang savana dan bukit-bukit cadas berwarna coklat. Sangat kontras dengan kondisi perairannya yang jernih berwarna hijau kebiruan. Pemandangan menakjubkan ini merupakan surga bagi para wisatawan, photographer dan film-maker yang berkunjung kesana untuk menikmatinya dan berburu gambar-gambar eksotik selain komodo dan terumbu karang.
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhkj4LE0ElotgcyZ_IV3pYrJ2Gv2qGK3VBFl966CsUhwrCFSD4bKgbUBipsxLS1EX_4z6R0cZ1KJ9ENdHsd786XLtkt2osCbeRYQd3NsZeRSfztKbDCrWxoLUU_U2uqrobFxpzd0VOXVmGz/s320/senoadji.wordpress.jpg

Bagi para pecinta dunia bawah laut, terdapat lebih dari 100 dive-site di TN Komodo, mulai dari yang berarus-tenang hingga yang berarus sangat kencang. Pantai merah di pulau Komodo yang biasa disebut dengan pink-beach oleh para turis mancanegara merupakan salah satu tempat terbaik untuk melakukan snorkeling dan penyelaman. Beberapa site penyelaman yang layak dicoba oleh para penyelam dengan kemahiran advance seperti batu bolong, karang makasar, gili lawa laut, gili lawa darat, crystal-rock, tatawa kecil, pulau indihang, padar, loh-sera dan batu tiga.
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgS3yNRToswoQbaBNrk7pwJr7pGbJNy8uWn_MUMhqdCGA7un_UEuukhjGXP9FN-F5wNVGlGuRWp_rZdW7eWYsoe_GSREqGXtMWtoSqtJanAFlWB008SLn4Ie3EkLCqnszPnUIrJZmIGNSvI/s320/crynoidcorner.jpg
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgSir1_khz3nRjxWlkT32BGXwstVNELYUG5EFm2xrZJcHiiObFdthbpmCViRHTRaWoTraB4iz6_qaUhuWS5fbKUoLlCUxFpF1viiII2AL3yxFmAlT2CHoWVcKbJ7DqWb8hehEP_R0BqVKWg/s320/divecenter_komodo2.jpg
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi6om_AGIMvCjJLdQKhYDEcgaH1-QevK0ge_aGUwBJPozXnxWkRPRXPh9saJPaHhp7HEpnflPxcJ16YV2HMX9I-aXvxSitIvLHEzBJ-Unmp4hxbBRMawrIOWO9Ca_B2-0zie5EFdlnT4UYs/s320/nusakode.jpg

Wisatawan paling banyak mengunjungi Taman Nasional Komodo adalah wisatawan mancanegara, dimana mereka menyebut taman nasional ini dengan julukan “dunia tersendiri”. Sejauh mata memandang terlihat lapangan terbuka dengan beberapa pohon lontar yang tegak menjulang ke langit dilatarbelakangi rangkaian pegunungan, kesan gersang dan tandus pada padang savana tetapi riuh oleh beberapa suara burung dan kuda liar, reptil raksasa. Berenang dan mandi di bawah teriknya matahari dan birunya air laut Flores; merupakan dunia tersendiri dan pengalaman yang tidak terlupakan oleh para wisatawan.
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgVBIiGgfHDfe4JANIRUHF7xDHrxpSjuJiplVYb2qm08OwBT_T6j4ubuPQZ5t1UCrwzpiHbHxA11Ydv0RmVLb7-InG-G3mWrZncNq9fbZPxW-I8eWpO8_JIWgr6Y6jhPAm-jN5aaEyOkWcB/s320/tnkomodo.jpg
Sebagai warga Negara Indonesia, bila kita berkesempatan, bila kita berkecukupan, kita juga bisa membantu pelestariannya dengan jalan mengunjungi Taman Nasional Komodo. Jadilah wisatawan domestik yang sadar lingkungan dengan melakukan aktifitas pariwisata hijau di sana. Tawaran utama tentunya menyaksikan kehidupan liar Komodo. Mengunjungi perkampungan masyarakat yang tinggal di wilayah ini juga menjadi tawaran menarik. Selain itu, yang ternyata menjadi andalan wisata Taman Nasional Komodo adalah wisata bawah airnya. Anda bisa melakukan penyelaman (diving) di berbagai lokasi yang tersebar di sana.
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiA95FLRu03WASGOKdf6FPGfb9EzAhj3twjxulhwo907K_BpSB8ihNdj-NkqWfMFcLcZacDqpmsoInwzcpy-_DoFCtcdm0KIzus2ZFXZr3ZOyRrTyuwtWsYPDGirt87JXgsw1hSX_wd0Kb7/s320/indo_0070.jpg

Bila anda ingin menikmati “dunia tersendiri” ini anda dapat mencapai daerah ini melalui :

Jakarta-Denpasar-Mataram-Bima-Sape (perjalanan darat dan fery) selama dua hari. Dari Sape menuju lokasi taman nasional menggunakan fery.

Jakarta-Denpasar-Labuan Bajo dengan pesawat seminggu dua kali, dan menggunakan fery atau speedboat dari Labuan Bajo ke lokasi taman nasional.

Jakarta – Kupang – Labuan Bajo dengan pesawat, dan menggunakan fery atau speedboat dari Labuan Bajo ke lokasi taman nasional.
Seorang pria menunjukkan pasir berwarna merah jambu (pink) di pesisir Pantai Pasir Pink di Pulau Komodo, Manggarai, NTT. Foto: Antara/ Ujang Zaelani
Penduduk asli pulau Komodo menyebut komodo dengan nama setempat "ora". Foto: Antara/ Ujang Zaelani
Pasir berwarna merah jambu (pink) di pesisir Pantai Pasir Pink di Pulau Komodo, Manggarai, NTT.
Pulau Komodo terletak di Propinsi Nusa Tenggara Timur. Berada di sebelah timur Pulau Sumbawa, yang dipisahkan oleh Selat Sape. Foto: www.wikipedia.org
Komodo (Varanus komodoensis) adalah spesies kadal terbesar di dunia yang hidup di pulau Komodo, Rinca, Flores, Gili Motang, dan Gili Dasami di Nusa Tenggara. Foto: Antara/ Ujang Zaelani
Karena besar tubuhnya, komodo menduduki posisi predator puncak yang mendominasi ekosistem tempatnya hidup. Foto: Antara/ Puspa Perwitasari
Komodo merupakan kadal terbesar di dunia, dengan rata-rata panjang 2-3 m. Foto: www.wikimedia.org
Habitat komodo di alam bebas telah menyusut akibat aktivitas manusia. Foto: Antara/ Puspa Perwitasari

Tidak ada komentar:

Posting Komentar